Peredaran Upal Tinggi, BI Jember Galakkan Sosialisasi 3D

Home / Berita / Peredaran Upal Tinggi, BI Jember Galakkan Sosialisasi 3D
Peredaran Upal Tinggi, BI Jember Galakkan Sosialisasi 3D Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo merilis pengungkapan kasus peredaran upal. (FOTO: Dody Bayu Prasetyo/TIMES Indonesia)

TIMESKENDARI, JEMBER – Pengungkapan kasus peredaran uang palsu (upal) yang melibatkan S, warga Lumajang, di Kecamatan Jombang, Jember, Jawa Timur oleh Polres Jember, mendapat apresiasi dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jember.

Kasir Kantor Perwakilan BI Jember Joni Setiyahadi mengatakan bahwa pengungkapan kasus peredaran upal tersebut menjadi bukti bahwa peredaran upal tidak hanya terjadi di kota-kota besar atau di pusat kota. Namun juga bisa terjadi di daerah pinggiran kota.

Lebih lanjut, Joni menggambarkan bahwa secara umum peredaran upal di wilayah Jember masih tinggi. Hingga sekarang, pihaknya telah menerima laporan terdapat dua ribu lembar upal yang di Jember dalam berbagai pecahan.

Menurutnya, sedikitnya ada dua faktor yang menyebabkan hal tersebut.

Pertama, masih banyak masyarakat Jember yang belum bisa membedakan atau mengenali uang asli dan uang palsu. Sehingga menyebabkan peredarannya upal sangat cepat dan meluas.

Kedua, dalam waktu yang bersamaan, banyak juga masyarakat yang sudah dapat membedakan dan mengenali uang asli dan uang palsu. Sehingga hal tersebut menyebabkan tingginya laporan masyarakat tentang adanya dugaan upal yang masuk ke loket-loket pengaduan di kantor polisi maupun di BI.

"Karena yang kita tahu, pengungkapan-pengungkapan kasus peredaran upal ini awaknya dari aduan masyarakat. Sehingga kami jadi tahu seberapa tingginya peredaran upal di Jember," kata Joni usai mengikuti jumpa pers tentang pengungkapan upal di halaman Polres Jember, Selasa, (17/4/2018).

Untuk hal masih banyaknya masyarakat Jember yang belum bisa membedakan antara uang asli dan uang palsu, Joni mengatakan bahwa Kantor Perwakilan BI Jember terus melakukan sosialisasi. Di antaranya sosialisasi untuk mengenalkan metode mengenali uang asli dan uang palsu. "Kami sosialisasikan metode 3D. Dilihat, Diraba, Diterawang. Kegiatan tersebut terus kami lakukan bahkan hari ini pun sedang berlangsung," imbuhnya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com